pengantar TI

•November 16, 2008 • Leave a Comment

Pendidikan Dalam Negeri
Rabu, 03 Mei 2006
Gerilya yang Kembali Menjadi Gerilya
Oleh HARIADI SAPTONO
Ini cerita tentang empat raja. Tahun 1985-an, Kaisar Jepang Hirohito (1901-1989) masuk koran dan televisi, bukan karena ia membuat keputusan politik penting. Liputan koran dan televisi, agak khusus ketika itu: menceritakan beberapa ekor ikan koki, spesies khusus yang digambarkan sangat indah, hasil rekayasa biologi yang dikerjakan Sang Kaisar yang pakar biologi laut itu. Tentu saja, tamu negara itu sangat terkesan pada Kaisar yang membukukan sendiri hasil-hasil penelitiannya itu.
Cerita kedua datang dari Sangkot Marzuki (Wakil Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, dalam Diskusi Panel Harian Kompas tentang Raja Chulalonkhorn atau Rama V (1835-1910), ahli astronomi. Tradisi keilmuan di kalangan kerajaan digunakannya untuk mengundang sejumlah duta besar negara Barat untuk membuktikan ramalannya tentang gerhana bulan.
“Benar saja, mereka kemudian menunggu di tepi sungai menyaksikan malam gerhana bulan itu benar- benar terjadi,” kata Direktur Lembaga Biologi Mulekuler Eijkman, Jakarta, itu tentang Raja Thailand, yang menghadiahkan patung gajah di Museum Gajah Jakarta itu.
Kalau sang kakek buyut bisa memprediksi detik-detik gerhana bulan, cicitnya Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX), sebulan lalu bisa meredakan gerhana politik. Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra kontan bertekuk lutut, dan menyatakan diri mundur dari tampuk kekuasaan setelah sang Raja memintanya memikirkan kepentingan rakyat. Raja keempat, di kaki Gunung Himalaya, Gyanendra, justru terlibat dalam pertengkaran politik dalam negeri Nepal dengan rakyatnya sendiri.
Cerita tentang “Raja Gerhana Bulan” tadi, menurut Sangkot, merupakan anekdot bagus, bagaimana leadership itu amat penting, bukan cuma dalam orientasi politik, tetapi juga dalam ayunan ke mana strategi sains dan teknologi suatu bangsa akan digerakkan. Cerita tiga raja pertama tadi niscaya merupakan kenangan indah bagi anak bangsa, dan menguatkan mereka, bagaimana kerja keras ilmuwan yang sepi dari publikasi dan sering juga tanpa imbalan memadai, sebenarnya memberi sumbangan besar suatu saat.
Itu sebabnya, peserta diskusi setengahnya ragu, benarkah negeri lain juga punya agenda terstruktur, semacam grand strategy dalam pengembangan sains dan teknologi. Itu setidaknya muncul dalam diskusi pakar fisika Johanes Surya (moderator), peneliti ilmu sosial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Thung Julan, Wakil Ketua LIPI Lukman Hakim, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro, serta Kepala Pusdiklat Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Nadirah.
Sains dan teknologi atau iptek tidak menjadi prioritas dalam sepuluh tahun terakhir. Secara agak mengherankan, di zaman Orde Baru dulu, program pengembangan sains dan teknologi—khususnya pengiriman mahasiswa dan tenaga-tenaga terdidik ke luar negeri—malahan dijalankan selama 18 tahun, sejak tahun 1985. Tiga program utamanya, OFP (Overseas Fellowship Program), STMDP (Science and Technology Manpower Development Program), dan STAID (Science and Technology for Industrial Development) dengan dana masing-masing dari Bank Dunia, Jepang, dan gabungan Bank Dunia dan Jepang itu, setidaknya telah memberi beasiswa 1.500-an pegawai lembaga-lembaga penelitian nondepartemen, 400 mahasiswa, dan 2.445 mahasiswa lain.
Bayangkan, 21 tahun lalu, Indonesia memiliki program terstruktur, dan dalam negeri dikembangkan infrastruktur industri strategis, sinergi antara pengembangan sains dan penerapannya di dalam negeri. “Waktu Indonesia punya science policy, seingat saya Amerika tidak punya National Science Policy, ya? Yang resmi tidak punya dia, mereka malah mengatakan, Indonesia hebat ini, punya Formal National Science Policy begitu. Dan saya enggak yakin sekarang pun, apa, misalnya, Thailand itu punya grand strategy. Itu kebanyakan keluar dari insting mereka, karena budaya keilmuan mereka itu hidup dari dulu sampai sekarang,” kata Sangkot. Ilmuwan Jepang malahan dinilai agak rendah kreativitasnya. Mereka lebih banyak mengembangkan sesuatu sehingga lebih baik dari asalnya.
Feeling tentang perlunya lembaga sains dan teknologi sudah muncul di era Soekarno, ketika ia mendirikan MIPI (Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia), yang kelak menjadi LIPI, serta MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia) yang didirikannya.
Tahun 1990-an, Bandung sebagai tempat IPTN (Industri Pesawat Terbang Nurtanio/Nusantara) berada, dianggap dunia internasional sebagai The Next Silicon Valley, padahal Bangalore kawasan pusat teknologi informasi India belum amat berpengaruh seperti sekarang. Sekarang, IPTN yang berubah menjadi PT DI (Dirgantara Indonesia), nyaris tak terberitakan.
Harus diakui, pengembangan sains dan teknologi menemukan momentumnya di saat BJ Habibie menjabat Menteri Ristek di bawah Presiden Soeharto. Konsepnya “berawal dari akhir, dan berakhir dari awal”, menunjukkan prioritas dan visinya pada teknologi tinggi. Ia memilih langsung pada teknologi tinggi, dengan empat tahapan alih teknologi: pertama, memproduksi pesawat terbang berdasarkan lisensi utuh dari industri pesawat terbang lain, kedua memproduksi pesawat terbang secara bersama-sama (hasilnya pesawat Tetuko CN-250), ketiga mengintegrasikan seluruh teknologi dan sistem konstruksi pesawat paling mutakhir menjadi sesuatu yang sama sekali baru (pesawat Gatotkoco N-250), dan keempat memproduksi pesawat terbang berdasarkan hasil riset kembali dari awal. Diproyeksikan, produknya N-2130. Program itu belum terwujud karena Indonesia dilanda krisis ekonomi.
Meski mungkin tetap mengundang polemik, tidak bisa disangkal, suasana, gairah, dan agenda pengembangan sains dan teknologi yang bersemangat, terpacu oleh strategi politik Soeharto lewat Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Di sisi lain, bagian dari usahanya memperkukuh status quo, dan meluasnya faham “pembangunan merata” ketika itu. Bagi sejumlah negara, sebutlah Malaysia, Afrika Selatan, atau negara ketiga lainnya, konsep Soeharto ternyata menjadi model. Tetap, dengan polemik dan kontroversinya.
Itulah sebabnya, diakui oleh Lukman Hakim, sains dan iptek di zaman Soeharto-Habibie, subur menumbuhkan kultur sains: anak-anak dan mahasiswa punya idola Habibie, dan mereka bergairah maju jadi ilmuwan. Sebutlah, istilah tinggal landas, lepas landas, begitu terang ketika itu. Kini, arah dan panduan bernegara seperti itu nyaris tidak terdengar pasca- reformasi. Sejak itu, yang terjadi justru besarnya tingkat konsumsi bangsa ini. Lukman mengatakan, dalam kurun 10 tahun sejak 1998, perbandingan belanja iklan masyarakat dibandingkan dengan anggaran iptek sangat njomplang, tak sebanding. Begitu kecilnya budget untuk iptek (Lihat tabel)! Rincian pada empat sektor kian menunjukkan sedang turun dan mundurnya perhatian pemerintah pada sains dan teknologi (lihat Grafis). “Tahun 1978 belanja iklan masyarakat Rp 3,76 triliun, dan tahun 2006 sudah Rp 28 triliun. Anda perhatikan, yang paling keras beriklan itu adalah produk-produk yang terancam, rokok dan air lines.”
Padahal, tanpa industri kompetitif, sebuah negara tak akan maju karena di dalamnya terkandung technological capability. Lukman melihat perlunya membangun litbang-litbang kerajinan rakyat—tidak bisa hanya yang berteknologi tinggi, karena ini dekat dengan kebutuhan, dan sumber daya saing rakyat.
Masalahnya, bagaimana merancang dan mengawal agar program pemerintah sejalan dengan swasta, dan kepentingan masyarakat. Meskipun, sekali lagi, riset dan pengembangan sains tidak mesti terapan, atau populis. Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, pekan lalu, dengan tegas mengatakan, porsi pemberitaan untuk pengembangan sains dan teknologi kurang. “Kapan wartawan mau ikut saya, banyak sekali hal yang harus kami sosialisasikan,” ujar Kusmayanto yang terus-terang mengakui, zamannya kini berbeda dengan zaman Habibie.
Dalam Visi Misi Iptek 2025, Kantor Menneg Ristek menetapkan Iptek sebagai kekuatan utama peningkatan kesejahteraan dan peradaban bangsa, dengan enam fokus program (2005-2009) pencapaian iptek: teknologi ketahanan pangan dan pertanian, teknologi energi (energi alternatif dan terbarukan), transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, kesehatan dan obat-obatan, serta pertahanan.
Jika awalnya, bangsa ini merancang dan bergerilya sendiri mencari model pegembangan sains dan teknologi, sekarang ini ternyata kita terpaksa napak tilas, menyusur jejak masa lalu, tetapi harus menemukan momentum baru. Karenanya, yang dibutuhkan sebenarnya manajer andal, punya fokus dan komitmen, dan membela rakyat banyak.
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0605/03/PendDN/2626716.htm

Artikel dari internet

•October 28, 2008 • Leave a Comment

Pendidikan Dalam Negeri
Rabu, 03 Mei 2006
Gerilya yang Kembali Menjadi Gerilya
Oleh HARIADI SAPTONO
Ini cerita tentang empat raja. Tahun 1985-an, Kaisar Jepang Hirohito (1901-1989) masuk koran dan televisi, bukan karena ia membuat keputusan politik penting. Liputan koran dan televisi, agak khusus ketika itu: menceritakan beberapa ekor ikan koki, spesies khusus yang digambarkan sangat indah, hasil rekayasa biologi yang dikerjakan Sang Kaisar yang pakar biologi laut itu. Tentu saja, tamu negara itu sangat terkesan pada Kaisar yang membukukan sendiri hasil-hasil penelitiannya itu.
Cerita kedua datang dari Sangkot Marzuki (Wakil Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, dalam Diskusi Panel Harian Kompas tentang Raja Chulalonkhorn atau Rama V (1835-1910), ahli astronomi. Tradisi keilmuan di kalangan kerajaan digunakannya untuk mengundang sejumlah duta besar negara Barat untuk membuktikan ramalannya tentang gerhana bulan.
“Benar saja, mereka kemudian menunggu di tepi sungai menyaksikan malam gerhana bulan itu benar- benar terjadi,” kata Direktur Lembaga Biologi Mulekuler Eijkman, Jakarta, itu tentang Raja Thailand, yang menghadiahkan patung gajah di Museum Gajah Jakarta itu.
Kalau sang kakek buyut bisa memprediksi detik-detik gerhana bulan, cicitnya Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX), sebulan lalu bisa meredakan gerhana politik. Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra kontan bertekuk lutut, dan menyatakan diri mundur dari tampuk kekuasaan setelah sang Raja memintanya memikirkan kepentingan rakyat. Raja keempat, di kaki Gunung Himalaya, Gyanendra, justru terlibat dalam pertengkaran politik dalam negeri Nepal dengan rakyatnya sendiri.
Cerita tentang “Raja Gerhana Bulan” tadi, menurut Sangkot, merupakan anekdot bagus, bagaimana leadership itu amat penting, bukan cuma dalam orientasi politik, tetapi juga dalam ayunan ke mana strategi sains dan teknologi suatu bangsa akan digerakkan. Cerita tiga raja pertama tadi niscaya merupakan kenangan indah bagi anak bangsa, dan menguatkan mereka, bagaimana kerja keras ilmuwan yang sepi dari publikasi dan sering juga tanpa imbalan memadai, sebenarnya memberi sumbangan besar suatu saat.
Itu sebabnya, peserta diskusi setengahnya ragu, benarkah negeri lain juga punya agenda terstruktur, semacam grand strategy dalam pengembangan sains dan teknologi. Itu setidaknya muncul dalam diskusi pakar fisika Johanes Surya (moderator), peneliti ilmu sosial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Thung Julan, Wakil Ketua LIPI Lukman Hakim, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro, serta Kepala Pusdiklat Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Nadirah.
Sains dan teknologi atau iptek tidak menjadi prioritas dalam sepuluh tahun terakhir. Secara agak mengherankan, di zaman Orde Baru dulu, program pengembangan sains dan teknologi—khususnya pengiriman mahasiswa dan tenaga-tenaga terdidik ke luar negeri—malahan dijalankan selama 18 tahun, sejak tahun 1985. Tiga program utamanya, OFP (Overseas Fellowship Program), STMDP (Science and Technology Manpower Development Program), dan STAID (Science and Technology for Industrial Development) dengan dana masing-masing dari Bank Dunia, Jepang, dan gabungan Bank Dunia dan Jepang itu, setidaknya telah memberi beasiswa 1.500-an pegawai lembaga-lembaga penelitian nondepartemen, 400 mahasiswa, dan 2.445 mahasiswa lain.
Bayangkan, 21 tahun lalu, Indonesia memiliki program terstruktur, dan dalam negeri dikembangkan infrastruktur industri strategis, sinergi antara pengembangan sains dan penerapannya di dalam negeri. “Waktu Indonesia punya science policy, seingat saya Amerika tidak punya National Science Policy, ya? Yang resmi tidak punya dia, mereka malah mengatakan, Indonesia hebat ini, punya Formal National Science Policy begitu. Dan saya enggak yakin sekarang pun, apa, misalnya, Thailand itu punya grand strategy. Itu kebanyakan keluar dari insting mereka, karena budaya keilmuan mereka itu hidup dari dulu sampai sekarang,” kata Sangkot. Ilmuwan Jepang malahan dinilai agak rendah kreativitasnya. Mereka lebih banyak mengembangkan sesuatu sehingga lebih baik dari asalnya.
Feeling tentang perlunya lembaga sains dan teknologi sudah muncul di era Soekarno, ketika ia mendirikan MIPI (Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia), yang kelak menjadi LIPI, serta MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia) yang didirikannya.
Tahun 1990-an, Bandung sebagai tempat IPTN (Industri Pesawat Terbang Nurtanio/Nusantara) berada, dianggap dunia internasional sebagai The Next Silicon Valley, padahal Bangalore kawasan pusat teknologi informasi India belum amat berpengaruh seperti sekarang. Sekarang, IPTN yang berubah menjadi PT DI (Dirgantara Indonesia), nyaris tak terberitakan.
Harus diakui, pengembangan sains dan teknologi menemukan momentumnya di saat BJ Habibie menjabat Menteri Ristek di bawah Presiden Soeharto. Konsepnya “berawal dari akhir, dan berakhir dari awal”, menunjukkan prioritas dan visinya pada teknologi tinggi. Ia memilih langsung pada teknologi tinggi, dengan empat tahapan alih teknologi: pertama, memproduksi pesawat terbang berdasarkan lisensi utuh dari industri pesawat terbang lain, kedua memproduksi pesawat terbang secara bersama-sama (hasilnya pesawat Tetuko CN-250), ketiga mengintegrasikan seluruh teknologi dan sistem konstruksi pesawat paling mutakhir menjadi sesuatu yang sama sekali baru (pesawat Gatotkoco N-250), dan keempat memproduksi pesawat terbang berdasarkan hasil riset kembali dari awal. Diproyeksikan, produknya N-2130. Program itu belum terwujud karena Indonesia dilanda krisis ekonomi.
Meski mungkin tetap mengundang polemik, tidak bisa disangkal, suasana, gairah, dan agenda pengembangan sains dan teknologi yang bersemangat, terpacu oleh strategi politik Soeharto lewat Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Di sisi lain, bagian dari usahanya memperkukuh status quo, dan meluasnya faham “pembangunan merata” ketika itu. Bagi sejumlah negara, sebutlah Malaysia, Afrika Selatan, atau negara ketiga lainnya, konsep Soeharto ternyata menjadi model. Tetap, dengan polemik dan kontroversinya.
Itulah sebabnya, diakui oleh Lukman Hakim, sains dan iptek di zaman Soeharto-Habibie, subur menumbuhkan kultur sains: anak-anak dan mahasiswa punya idola Habibie, dan mereka bergairah maju jadi ilmuwan. Sebutlah, istilah tinggal landas, lepas landas, begitu terang ketika itu. Kini, arah dan panduan bernegara seperti itu nyaris tidak terdengar pasca- reformasi. Sejak itu, yang terjadi justru besarnya tingkat konsumsi bangsa ini. Lukman mengatakan, dalam kurun 10 tahun sejak 1998, perbandingan belanja iklan masyarakat dibandingkan dengan anggaran iptek sangat njomplang, tak sebanding. Begitu kecilnya budget untuk iptek (Lihat tabel)! Rincian pada empat sektor kian menunjukkan sedang turun dan mundurnya perhatian pemerintah pada sains dan teknologi (lihat Grafis). “Tahun 1978 belanja iklan masyarakat Rp 3,76 triliun, dan tahun 2006 sudah Rp 28 triliun. Anda perhatikan, yang paling keras beriklan itu adalah produk-produk yang terancam, rokok dan air lines.”
Padahal, tanpa industri kompetitif, sebuah negara tak akan maju karena di dalamnya terkandung technological capability. Lukman melihat perlunya membangun litbang-litbang kerajinan rakyat—tidak bisa hanya yang berteknologi tinggi, karena ini dekat dengan kebutuhan, dan sumber daya saing rakyat.
Masalahnya, bagaimana merancang dan mengawal agar program pemerintah sejalan dengan swasta, dan kepentingan masyarakat. Meskipun, sekali lagi, riset dan pengembangan sains tidak mesti terapan, atau populis. Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, pekan lalu, dengan tegas mengatakan, porsi pemberitaan untuk pengembangan sains dan teknologi kurang. “Kapan wartawan mau ikut saya, banyak sekali hal yang harus kami sosialisasikan,” ujar Kusmayanto yang terus-terang mengakui, zamannya kini berbeda dengan zaman Habibie.
Dalam Visi Misi Iptek 2025, Kantor Menneg Ristek menetapkan Iptek sebagai kekuatan utama peningkatan kesejahteraan dan peradaban bangsa, dengan enam fokus program (2005-2009) pencapaian iptek: teknologi ketahanan pangan dan pertanian, teknologi energi (energi alternatif dan terbarukan), transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, kesehatan dan obat-obatan, serta pertahanan.
Jika awalnya, bangsa ini merancang dan bergerilya sendiri mencari model pegembangan sains dan teknologi, sekarang ini ternyata kita terpaksa napak tilas, menyusur jejak masa lalu, tetapi harus menemukan momentum baru. Karenanya, yang dibutuhkan sebenarnya manajer andal, punya fokus dan komitmen, dan membela rakyat banyak.
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0605/03/PendDN/2626716.htm

PTI

•October 29, 2008 • Leave a Comment

wahhh… lupa aku may masukin PTI..

besokk dehh.. sebenernya sih udahh.. tapi lupa ada di mana.. Continue reading ‘PTI’

EVOLUSI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI

•October 30, 2008 • 1 Comment

I. Empat era perkembangan Teknologi computer :

Secara garis besar, ada empat periode atau era perkembangan sistem informasi, yang dimulai dari pertama kali diketemukannya komputer hingga saat ini. Keempat era tersebut (Cash et.al., 1992) terjadi tidak hanya karena dipicu oleh perkembangan teknologi komputer yang sedemikian pesat, namun didukung pula oleh teori-teori baru mengenai manajemen perusahaan modern. Ahli-ahli manajemen dan organisasi seperti Peter Drucker, Michael Hammer, Porter, sangat mewarnai pandangan manajemen terhadap teknologi informasi di era modern.

Oleh karena itu dapat dimengerti, bahwa masih banyak perusahaan terutama di negara berkembang (dunia ketiga), yang masih sulit mengadaptasikan teori-teori baru mengenai manajemen, organisasi, maupun teknologi informasi karena masih melekatnya faktor-faktor budaya lokal atau setempat yang mempengaruhi behavior sumber daya manusianya. Sehingga tidaklah heran jika masih sering ditemui perusahaan dengan peralatan komputer yang tercanggih, namun masih dipergunakan sebagai alat-alat administratif yang notabene merupakan era penggunaan komputer pertama di dunia pada awal tahun 1960-

II. Era komputerisasi

Pemakaian komputer di masa ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, karena terbukti untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu, mempergunakan komputer jauh lebih efisien (dari segi waktu dan biaya) dibandingkan dengan mempekerjakan berpuluh-puluh SDM untuk hal serupa. Pada era tersebut, belum terlihat suasana kompetisi yang sedemikian ketat.
Hampir semua perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang infrastruktur (listrik dan telekomunikasi) dan pertambangan pada saat itu membeli perangkat komputer untuk membantu kegiatan administrasinya sehari-hari. Keperluan organisasi yang paling banyak menyita waktu komputer pada saat itu adalah untuk administrasi back office, terutama yang berhubungan dengan akuntansi dan keuangan. Kunci dari keberhasilan perusahaan di era tahun 1980-an ini adalah penciptaan dan penguasaan informasi secara cepat dan akurat.

III. Era Globalisasi Informasi

Tidak ada negara yang mampu untuk mencegah mengalirnya informasi dari atau ke luar negara lain, karena batasan antara negara tidak dikenal dalam virtual world of computer. Penerapan teknologi seperti LAN, WAN, GlobalNet, Intranet, Internet, Ekstranet, semakin hari semakin merata dan membudaya di masyarakat. Terbukti sangat sulit untuk menentukan perangkat hukum yang sesuai dan terbukti efektif untuk menangkal segala hal yang berhubungan dengan penciptaan dan aliran informasi. Perusahaan-perusahaan pun sudah tidak terikat pada batasan fisik lagi. Melalui virtual world of computer, seseorang dapat mencari pelanggan di seluruh lapisan masyarakat dunia yang terhubung dengan jaringan internet. Sulit untuk dihitung besarnya uang atau investasi yang mengalir bebas melalui jaringan internet. Kebutuhan baru akan teknologi informasi yang cocok untuk perusahaan, yaitu teknologi yang mampu adaptif terhadap perubahan.

Tidak jarang perusahaan yang akhirnya harus mendefinisikan kembali visi dan misi bisnisnya, terutama yang bergelut di bidang pemberian jasa. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan perangkat canggih teknologi informasi telah merubah mindset manajemen perusahaan sehingga tidak jarang terjadi perusahaan yang banting stir menggeluti bidang lain. Bagi negara dunia ketiga atau yang sedang berkembang, dilema mengenai pemanfaatan teknologi informasi amat terasa. Di suatu sisi banyak perusahaan yang belum siap karena struktur budaya atau SDM-nya, sementara di pihak lain investasi besar harus dikeluarkan untuk membeli perangkat teknologi informasi. Tidak memiliki teknologi informasi, berarti tidak dapat bersaing dengan perusahaan multi nasional lainnya, alias harus gulung tikar.

IV. Perubahan Pola Piker Sebagai Syarat

Dari keempat era di atas, terlihat bagaimana alam kompetisi dan kemajuan teknologi informasi sejak dipergunakannya komputer dalam industri hingga saat ini terkait erat satu dan lainnya. Memasuki abad informasi berarti memasuki dunia dengan teknologi baru, teknologi informasi.

Komitmen, mau berubah untuk sukses dan tidak takut gagal, sangat penting untuk berhasilnya penerapan TEKNOLOGI INFORMASI sehingga menjadi piawai dalam persaingan dunia usaha saat ini dan akan datang.

waduhh mau uts :-SS

•October 30, 2008 • Leave a Comment

yahhh… kayanya uts ga kerasa amat.. :(

kayanya baru bentar belajar.. taunya dah uts lagi.. :-O

kebanyakan mals.. jadi gini ni.. ga kaya waktu sma kemarinnn..

padahal dulu seneng banget ngerjain tugas2.. uts juga ga pernah maless..

duh,, gara2 sapa si ni??

ehhmmmm… pusingggggggg

di kelas terlalu banyak saingan ..

tapi jangan patah semangat dilll

ganbatte kudasaiiii…

wa surenaide…….

Pengantar Jaringan VoIP

•November 16, 2008 • 1 Comment

Voice over Internet Protocol (VoIP) adalah teknologi yang mampu melewatkan trafik suara, video dan data yang berbentuk paket melalui jaringan IP. Jaringan IP sendiri adalah merupakan jaringan komunikasi data yang berbasis packet-switch, jadi dalam bertelepon menggunakan jaringan IP atau Internet. Dengan bertelepon menggunakan VoIP, banyak keuntungan yang dapat diambil diantaranya adalah dari segi biaya jelas lebih murah dari tarif telepon tradisional, karena jaringan IP bersifat global. Sehingga untuk hubungan Internasional dapat ditekan hingga 70%. Selain itu, biaya maintenance dapat di tekan karena voice dan data network terpisah, sehingga IP Phone dapat di tambah, dipindah dan di ubah. Hal ini karena VoIP dapat dipasang di sembarang ethernet dan IP address, tidak seperti telepon tradisional yang harus mempunyai port tersendiri di Sentral atau PBX.

Perkembangan teknologi internet yang sangat pesat mendorong ke arah konvergensi dengan teknologi komunikasi lainnya. Standarisasi protokol komunikasi pada teknologi VoIP seperti H.323 telah memungkinkan komunikasi terintegrasi dengan jaringan komunikasi lainnya seperti PSTN.

AMD Luncurkan Chip Shanghai 45nm

•November 16, 2008 • Leave a Comment

Setelah menunda peluncuran prosesor 45nm terbarunya, AMD akhirnya mampy untuk merilis si prosesor tersebut ke pasar. Prosesor yang dinamai Shanghai tersebut saat ini hanya terbatas untuk Opteron dan ditujukan untuk workstation dan server.

Varian CPU tersebut untuk PC desktop yang dinamai Deneb belum diketahui kapan akan diluncurkan. Kegagalan Barcelona dan Phenom membuat pangsa pasar AMD mengalami penurunan dan berdampak pada pengguna PC yang tidak terlalu berharap terhadap pesaing Intel ini. Prosesor Shanghai diklaim mampu meraih kecepatan clock 2.7GHz.

Sumber: AMD

Pengaturan Jaringan Internet 1

•November 16, 2008 • Leave a Comment

Penamaan host

Penamaan dalam herarki

penamaan-ip.bmp (28286 bytes)

Penamaan disimpan dan dikelola secara herarkis oleh server Domain Name Service (DNS). DNS pusat (yaitu root) mendelegasikan subdomain ke pengelola subdomain di bawahnya. Demikian seterusnya.
Untuk memperoleh sebuah domain, seseorang harus mendaftar (biasanya dengan biaya) ke pengelola domain di atasnya. Misalnya, untuk memperoleh “unpar.ac.id”, harus mendaftar ke pemegang domain “ac.id”.

Hubungan nama dan alamat dalam TCP/IP disimpan dan dikelola oleh server yang menyediakan pelayanan Domain Name Service (DNS). Penterjemahan nama-alamat dapat dilakukan dua arah dan tidak harus sama.

Misalnya:

  • IP=10.1.1.12 diberi nama intern-12.unpar.ac.id
  • main-router.unpar.ac.id diberi IP=10.1.1.12

Penterjemahan nama ke IP dan sebaliknya dapat dilakukan secara:

  1. Statis dengan menggunakan file “C:\WINDOWS\HOSTS.” (MS-Windows) atau “/etc/hosts” (UNIX, netware), atau
  2. Dinamis dengan DNS server. Akses ke internet menuntut konfiguras dinamis.

Contoh file HOSTS

# baris yang diawali dengan tanda # diabaikan
# kolom-1       kolom-2          kolom-3
# IP            nama-panjang     nama-pendek

# sebaiknya baris berikut ini ada dan tidak diganti
127.0.0.1       localhost

# komputer yang sering dihubungi
10.210.1.2      home.unpar.ac.id        home
10.210.1.1      proxy.unpar.ac.id       proxy
167.205.206.59  www.gema.or.id          gema

# isian berikut ini pasti salah
10.1.1.267  ngeledek.unpar.ac.id    ngeledek

127.0.0.1   mycomputer.mydomain mycomputer

Konfigurasi DNS untuk UNIX ada di file /etc/resolv.conf

Utilitas UNIX: nslookup
Mencari alamat IP dari main-router.unpar.ac.id dan nama dari IP-nya. Setelah selesai, gunakan ^D atau exit.

[gatut@bsd02 gatut]$ nslookup
Default Server:  dhcps.unpar.ac.id
Address: 10.1.3.1

> main-router.unpar.ac.id
Server: dhcps.unpar.ac.id
Address: 10.1.3.1
Name: main-router.unpar.ac.id
Addresses: 10.1.3.1, 10.100.100.10, 10.210.1.7

> 10.1.3.1
Server: dhcps.unpar.ac.id
Address: 10.1.3.1
Name: dhcps.unpar.ac.id
Address: 10.1.3.1

> ngawur.unpar.ac.id
Server: dhcps.unpar.ac.id
Address: 10.1.3.1
*** dhcps.unpar.ac.id can't find ngawur.unpar.ac.id:
Non-existent host/domain

>

Utilitas UNIX: dig
Mencari alamat IP dari main-router menggunakan dig.

[gatut@bsd02 gatut]$ dig main-router.unpar.ac.id
;<<>> DiG 8.2 <<>> main-router.unpar.ac.id
;; res options: init recurs defnam dnsrch
;; got answer:
;; ->>HEADER<<- opcode: QUERY, status: NOERROR, id: 6
;; flags: qr aa rd ra; QUERY: 1, ANSWER: 3, AUTHORITY: 3, ADDITIONAL: 7
;; QUERY SECTION:
;; main-router.unpar.ac.id, type = A, class = IN

;; ANSWER SECTION:
main-router.unpar.ac.id.  1H IN A  10.100.100.10
main-router.unpar.ac.id.  1H IN A  10.210.1.7
main-router.unpar.ac.id.  1H IN A  10.1.3.1

;; AUTHORITY SECTION:
unpar.ac.id.  1H IN NS home.unpar.ac.id.
unpar.ac.id.  1H IN NS student.unpar.ac.id.
unpar.ac.id.  1H IN NS main-router.unpar.ac.id.

;; ADDITIONAL SECTION:
home.unpar.ac.id. 1H IN A  167.205.206.60
home.unpar.ac.id. 1H IN A  10.210.1.2
student.unpar.ac.id. 1H IN A  167.205.206.58
student.unpar.ac.id. 1H IN A  10.210.1.3
main-router.unpar.ac.id.  1H IN A  10.100.100.10
main-router.unpar.ac.id.  1H IN A  10.210.1.7
main-router.unpar.ac.id.  1H IN A  10.1.3.1
;; Total query time: 20 msec
;; FROM: bsd02.unpar.ac.id to SERVER: default -- 10.1.3.1

;; WHEN: Wed Jun 16 16:49:11 1999
;; MSG SIZE  sent: 41  rcvd: 267
[gatut@bsd02 gatut]

Keterangan:

  • Alamat main-router ada 3 buah, yaitu 10.100.100.10, 10.210.1.7, dan 10.1.3.1. Tampak dari jenis record alamat (IN A).
  • Nama host untuk IP 10.1.3.1 adalah dhcps.unpar.ac.id
  • Pemegang domain unpar.ac.id ada di 3 server, yaitu: home.unpar.ac.id, student.unpar.ac.id, dan main-router.unpar.ac.id
  • Masing-masing alamat server tersebut dapat dilihat di “ADDITIONAL SECTION”.

Pengaturan Jaringan Internet 3

•November 16, 2008 • Leave a Comment

Mengkonfigurasi komputer secara terpusat.

BOOTP

Ketika workstation dihidupkan dan “boot from network”, workstation meminta kepada sembarang host yang mau memberikan “program boot”.

Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP)

Penentuan alamat IP dan konfigurasi secara otomatis. Pada saat komputer client dihidupkan, client mengirimkan permintaan “siapa aku” ke jaringan menggunakan alamat broadcast. DHCP server akan memberikan jawaban sesuai dengan alamat NIC dan ketersediaan konfigurasi mencakup alamat IP, subnet mask, default gateway, dan sebagainya. Penggunaan IP dan konfigurasinya memiliki masa pakai (sewa?). Bila masa sewa habis, maka client meminta apakah bisa meneruskan sewa atau menggunakan konfigurasi yang baru. Jika komputer client berpindah ke subnet lain, alamat IP tersebut akan diambil kembali oleh server untuk digunakan oleh komputer lain.

Windows Internet Name Service (WINS)

Penterjemahan alamat-nama (dan sebaliknya) untuk NetBIOS (MS-Windows dan DOS).

  • Pemetaan alamat dan nama secara dinamis: Setiap kali client WINS dihidupkan, client mendaftarkan (registration) namanya ke server. Ketika client WINS dimatikan, client memberitahu server untuk melepas (release) namanya. Dengan demikian client dapat berpindah subnet dan IP dengan mudah dan tetap dalam pemantauan server. Apabila dalam jangka waktu tertentu client tidak memperbaharui statusnya (renewal), client dianggap memutuskan diri dari jaringan (crash, gagal-daya, dsb).
  • Menampilkan daftar komputer: Dengan WINS semua clients (Windows NT, Windows 95, Windows for Workgroups, LAN Manager 2.x, dan MS-DOS menggunakan Microsoft Network Client 3.0) dapat melihat semua client lainnya baik yang ada di dalam network atau di luar subnet di seberang router.
  • Penurunan kebutuhan broadcast: NetBIOS menggunakan broadcast untuk mempublikasikan keberadaan sebuah komputer ke subnetnya. Apabila jumlah komputer dalam jaringan sangat banyak, maka jaringan semakin terbebani dengan “pengumuman” ini. WINS Server menurunkan keperluan akan broadcast, karena permintaan langsung ditujukan ke server daripada ke broadcast. Broadcast tetap muncul apabila permintaan ke WINS server gagal.
  • Peta Jaringan UNPAR

    Peta fisik (yang disederhanakan) jaringan UNPAR seperti dapat dilihat dalam diagram yang direferensikan, terbagi menjadi 2 kelompok:

    1. Akademik-net, mencakup laboratorium komputer di fakultas, warnet, UKM, dsb.
    2. Administrsi-net, pada saat ini hanya terdiri dari satu subnet besar menghubungkan semua unit/biro/fakultas.

    Jaringan akademik (student), sepenuhnya hanya mendukung protocol TCP/IP. Dengan demikian pembentukan subnet lebih mudah. Kebutuhan protocol lain yang melintasi subnet diserahkan pada pengelola router pemilik subnet sepanjang tidak mengganggu “backbone”.

    Jaringan administrasi (home, BAPSI) protocol yang digunakan:

    1. TCP/IP untuk kebutuhan akses internet (intranet menyusul)
    2. IPX/SPX untuk remote boot dan pengolahan data SIM dengan Novell Netware yang ada di BAPSI
    3. NetBEUI untuk sharing printer di berbagai unit/biro/fakultas.

    Atas keragaman protocol, jenis dan jumlah komputer dalam jaringan administrasi, maka perlu persiapan supaya pembagian subnet dapat berjalan dengan lancar.

    Kecepatan transfer dalam jaringan administrasi sudah pada tingkat jenuh. Diameter jaringan sangat besar (jauh), jumlah hub maksimal. Setiap gangguan kecil dalam jaringan menyebabkan penambahan yang berarti bagi beban jaringan.

    Kendala yang harus dipertimbangkan untuk pembagian jaringan:

    1. NetBEUI lintas unit atau ruangan masih belum banyak digunakan. Apabila sudah diperlukan dapat digunakan WINS atau diatasi sementara dengan setting lokal (statis).
    2. Pemisahan subnet akan menambah delay (memperlambat) akses ke jaringan UNPAR-intranet bagi subnet tsb.
    3. Karena sebagian komunikasi menggunakan protocol IPX, perlu router yang me-route IPX. Bila hardware router harganya dirasa cukup mahal dapat diganti dengan PC-router berbasis (Netware, Windows-NT, Linux). Kerugian PC-router: apabila komputer mati mendadak, kemungkinan terjadi kerusakan pada program.
    4. Remote-boot yang terintegrasi dalam workstation menggunakan protocol IPX (Netware). Perlu bootp-relay di setiap server. Penulis belum berhasil menjalankan BOOTP server untuk protocol IPX di server non-netware.

    Pengaturan Jaringan Internet 2

    •November 16, 2008 • Leave a Comment

    Menelusuri pendelegasian domain dari pusatnya.

    Setiap DNS server dapat mengaku memegang kendali atas sejumlah domain. Apabila ada keraguan tentang kepemilikan domain, harus ditelusuri dari pusat pengendali.  Jenis record yang diteliti adalah “SOA” (Start Of Authority) dan diminta domain “root” (titik).

    [gatut@bsd02 gatut]$ nslookup
    Default Server: dhcps.unpar.ac.id
    Address: 10.1.3.1
    > set type=soa
    > .
    Server: dhcps.unpar.ac.id
    Address: 10.1.3.1
    Non-authoritative answer:
            (root)
            origin = A.ROOT-SERVERS.NET
            mail addr = hostmaster.INTERNIC.NET
            serial = 1999061500
            refresh = 1800 (30M)
            retry   = 900 (15M)
            expire  = 604800 (1W)
            minimum ttl = 86400 (1D)
    
    Authoritative answers can be found from:
    (root) nameserver = D.ROOT-SERVERS.NET
    (root) nameserver = C.ROOT-SERVERS.NET
    D.ROOT-SERVERS.NET internet address = 128.8.10.90
    C.ROOT-SERVERS.NET internet address = 192.33.4.12
    [ sebagian output dipotong untuk menghemat halaman]
    >

    Subdomain berikutnya, misalkan “id.” dipegang oleh “ns1.id” bersama sejumlah server pendukung.

    > id.
    Server: dhcps.unpar.ac.id
    Address:  10.1.3.1
    
    Non-authoritative answer:
    id
    	origin = ns1.id
    	mail addr = hostmaster.idnic.net.id
    	serial = 1999061605
    	refresh = 28800 (8H)
    	retry   = 10800 (3H)
    	expire  = 604800 (1W)
    	minimum ttl = 172800 (2D)
    > server hostmaster.idnic.net.id
    > ac.id.

    nslookup berfungsi untuk menelusuri data berdasarkan jenis record. Beberapa jenis record:

    A Adress alamat
    CNAME Canonical Name (Alias) Nama lain
    HINFO Host Info, CPU, OS Keterangan tentang host, biasanya tentang CPU dan OS
    MX Mail eXchange mail server yang dapat digunakan apabila host tidak dapat dihubungi. Biasanya ada beberapa server dengan urutan prioritas.
    NS Name Server Server yang melayani permintaan data domain ybs
    PTR Pointer Nama host atas alamat IP atau penunjuk menuju informasi lain
    SOA Start Of Authority Informasi pemilik otoritas domain
    WKS Well Known Service Penyedia layanan

    Jenis lainnya dapat dilihat di manual (man nslookup).

    IM2 Single Voucher TOP UP

    •November 16, 2008 • Leave a Comment

    Pada Tanggal 5 November 2008 sebagai upaya perusahaan untuk terus mewujudkan konsep ‘IM2 Anywhere’, PT Indosat Mega Media (IM2), penyedia jasa internet dan multimedia terkemuka di Indonesia, kini memungkinkan para pelanggannya untuk melakukan isi ulang menggunakan voucher Indosat seperti Mentari, IM3, dan StarOne.

    “Kini pelanggan IM2 semakin mudah untuk melakukan isi ulang mengingat jaringan distribusi voucher isi ulang Indosat telah tersebar merata dan banyak tersedia di seluruh Indonesia. Inovasi ini diharapkan semakin meningkatkan kenyamanan dan kemudahan para pelanggan dalam menggunakan layanan internet broadband prabayar IM2. Pecahan voucher isi ulang bervariasi mulai dari Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000, hingga Rp100.000″ ujar Indar Atmanto, Direktur Utama IM2.

    Cara isi ulang menggunakan voucher Indosat sangat mudah seperti halnya menggunakan voucher IM2. Pelanggan cukup memasukkanusername dan password pada website www.indosatm2/topup kemudian memilih tipe voucher yang ingin digunakan. Masukkan kode voucher pada kolom yang tersedia lalu kode verifikasi maka pelanggan pun dapat kembali ber-internet sepuasnya.

    IM2 merupakan ISP pertama dan satu-satunya di Indonesia yang menghadirkan layanan internet broadband 3.5G dengan metoda prabayar. Layanan ini kemudian ditingkatkan dengan diluncurkannya fitur IM2 Unlimited beberapa waktu lalu. Fitur ini memungkinkan para pengguna untuk menikmati akses internet Broadband yang berkualitas dan terpercaya tanpa batas baik berupa kuota maupun waktu.

    “IM2 akan terus selalu meningkatkan kualitas baik mengenai jaringan, pengembangan fitur-fitur pada broadband, serta peningkatan layanan pelanggan, untuk mengantisipasi makin meningkatnya pelanggan IM2 di masa depan” lanjut Indar.

    Informasi selengkapnya, silahkan klik disini

    Isi Ulang Prepaid Melalui Voucher Indosat

    •November 16, 2008 • Leave a Comment

    Kini Isi Ulang IM2 bisa dari Semua Voucher Indosat!

    Pertama Mobile Broadband diIndonesia yang bisa isi ulang dengan voucher apa saja. Kini dengan program Single Voucher Indosat memungkinkan kamu untuk melakukan pengisian ulang IM2 dari semua voucher Indosat (Mentari, IM3, dan StarOne) yang tersedia diseluruh Indonesia.  Dengan teknologi berbasis 3.5G (HSDPA), 3G (UMTS), EDGE, GPRS dan CDMA membuat IM2 bisa diakses dimana saja.

    Setelah semua kemudahan tersedia , saatnya berinternet sepuasnya. IM2 emang ngerti kamu. I’m IM2..

    Cara Melakukan Isi Ulang:

    1. Buka www.indosatm2.com/topup
    2. MasukanUsername& Password Account IM2 Anda (Prime Hybrid, Broom atau Truff) seperti pada contoh di bawah ini, lalu klik Login.


    3. Akan muncul tampilan seperti di bawah ini :

    Pada TipeVoucher silakan pilih :

    • IM2 Voucher, jika Anda menggunakan voucher dari IM2
    • Indosat Voucher, jika Anda menggunakan single voucher dari Indosat (Mentari, IM3 atau StarOne)

    4.a. Jika Anda memilih memilih IM2 Voucher,maka akan muncul tampilan di bawah ini

    • Masukan Username dan Password yang tertera dalam voucher.
    • Masukan verifikasi yang tertera di layar (tercetak buram)
    • Klik Top Up

    4.b. Jika Andamemilih memilih Indosat Voucher, maka akan muncul tampilan di bawah ini

    • Masukan Kode Voucher yang tertera dalam voucher.
    • Masukan Kode Verifikasi yang tertera di layar (tercetak buram)
    • Klik Top Up

    5. Jika pengisian ulang Andaberhasil, selanjutnya akan muncul layar di bawah ini

    6. Selamat menikmati koneksiInternet Broadband dari IM2!

    Apa itu Internet Marketing

    •November 16, 2008 • Leave a Comment

    adalah pemasaran suatu produk atau jasa melalui . Seperti pemasaran suatu produk atau jasa pada umumnya hanya pemasaran dengan cara ini diperlukan suatu pengetahuan dasar tentang .

    Keuntungan pemasaran melalui atau kita sebut saja adalah :
    - Biaya pemasaran yang relatif lebih murah untuk jangkauan sasaran yang lebih luas
    - Pemasaran dapat terjangkau luas maksudnya dapat diakses oleh semua orang dari seluruh dunia

    Saat ini di Indonesia berkembang sangat pesat, ini dapat dilihat dari semakin bertambah banyaknya provider-provider di Indonesia. Dengan semakin bertambahnya provider di Indonesia, maka pengguna di Indonesia juga semakin banyak. Karena banyaknya persaingan dari provider-provider sendiri maka biaya untuk koneksi juga semakin murah.
    Memang hal itu juga yang diharapkan oleh pemerintah Indonesia, sehingga pemakaian dapat terjangkau sampai ke daerah-daerah dan pelosok-pelosok Indonesia, sehingga rakyat Indonesia diharapkan melek .

    Dan hal ini membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan atau pemilik produk seperti UKM untuk memasarkan produknya melalui .

    Menilik Perkembangan Internet Nirkabel Di Indonesia

    •November 16, 2008 • Leave a Comment

    Sejak adanya Internet di Indonesia tahun 1994, semua pemakai Internet mengalami kesulitan untuk menggunakan jaringan yang disediakan oleh PT Telkom Indonesia. Kondisi ini kemudian memicu kehadiran gerakan untuk sosialisasi teknologi nirkabel yang konsisten.

    Perkembangan nirkabel pun kemudian bergerak di Indonesia sejak dikeluarkannya Kepdirjen Postel No 241 tahun 1999 mengenai penggunaan nirkabel di frekuensi 2,4 GHz. Hal ini diperkuat oleh Keputusan Menteri Departemen Perhubungan No.2 tahun 2005 mengenai penggunaan nirkabel di frekuensi 2,4 GHz.

    Pada prinsipnya, penggunaan radio nirkabel ini kemudian dibebaskan dari biaya hak penggunaan frekuensi, sertifikat radio nirkabel sebagai izin siaran radio, pembatasan kekuatan daya pancar radio sampai dengan 36 Dbmwatt, dan pengaturan penggunaan radio nirkabel oleh komunitas.

    Di lain pihak, jika melihat fakta, sejak awal tahun 2000 masih sangat sulit mencari teknisi nirkabel. Orang yang mengerti secara rinci teknologi nirkabel pun masih tergolong sedikit. Apalagi banyak orang yang pengetahuan nirkabelnya didapat dari “jalanan” sehingga sering sekali terjadi salah pemakaian teknologi, di antaranya penggunaan amplifier dan tidak diketahuinya perhitungan link budget.

    Sementara itu, sejak diperkenalkan di tahun 1990 dan diresmikan penggunaannya tahun 1999, teknologi standar 802.11 (teknologi nirkabel) tidak mengalami suatu kemajuan yang mencolok. Hal yang mencolok justru berkaitan dengan skala ekonomi yang sudah diprediksi sejak awal diperkenalkannya teknologi nirkabel ini. Dengan demikian, ada hal menarik di mana harga teknologi nirkabel menjadi semakin terjangkau. Saat ini, satu access point yang dapat dipakai untuk outdoor unit harganya hanya Rp 500 ribu dan jika digabung dengan antena dan lainnya, harganya tidak lebih dari Rp 2 juta.

    Menurut Michael Sunggiardi, anggota IndoWLI (Indosat Wireless LAN Internet), saat ini perangkat nirkabel yang dominan dipakai adalah perangkat yang memiliki daya besar, sehingga tidak memusingkan sewaktu pemasangannya, perangkat yang bentuknya praktis bergabung dengan antena
    sehingga tidak membutuhkan tower yang besar dan mahal, dan perangkat yang dapat diutak-atik sehingga memenuhi kebutuhan yang lebih spesifik.

    Michael yang juga menjabat CTO PT Marvel Network Sistem menyatakan, saat ini terjadi kekacauan teknologi nirkabel di Indonesia. Hal ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, banyak instalatir yang tidak mau peduli dengan peraturan dan tidak mau melakukan kolaborasi. Kedua, akibat murahnya perangkat, setiap orang menaikkan perangkat nirkabel ke atas atap rumah karena infrastruktur belum memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ketiga, tidak adanya upaya untuk bekerja sama dalam membangun infrastruktur. “Semua mau jalan sendiri,” ujar Michael.

    Ke depannya, perkembangan teknologi nirkabel akan mengarah ke beberapa hal. Pertama, semakin banyaknya peranti rumah atau household yang memanfaatkan teknologi nirkabel. Selain itu, industri juga semakin banyak yang memanfaatkan teknologi nirkabel. Kedua, jika penggunaan teknologi nirkabel tidak diatur dengan sebaik-baiknya, maka akan terjadi chaos sehingga teknologi ini akan jalan di tempat. Ketiga, ke depannya diperkirakan tidak akan mudah membuat HotSpot atau wireless city.

    Dengan demikian, berdasarkan pengalaman selama lebih dari tujuh tahun dalam teknologi nirkabel, maka Michael menyarankan untuk membuat produk sendiri dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia karena sudah ditunjang oleh open source, open hardware, dan open standard. Hal ini ditambah dengan adanya kemungkinan untuk membuat sistem secara terpadu dari peranti keras dan peranti lunak.

    Senada dengan Michael, Hermanudin dari IndoWLI menyatakan, jaringan nirkabel merupakan ujung tombak last mile yang handal, cepat, efisien, dan murah. Terlebih bagi perusahaan-perusahaan yang tidak mempunyai alternatif last mile lain seperti jaringan tembaga, last mile fiber optic, dll.

    Di samping itu, dengan terwujudnya kesepahaman peraturan yang diregulasi tentang penggunaan radio nirkabel Wifi, BWA, dan WiMax di semua frekuensi di Indonesia, produk jasa telekomunikasi ke depan diharapkan bisa semakin murah. Adanya peningkatan komunitas pengguna Internet berdampak pada peningkatan komunikasi di masyarakat. Dengan kata lain, teknologi komunikasi harus diliberalisasikan secara komprehensif sehingga menguntungkan perkembangan sumber daya manusia Indonesia ke depannya.

    dikutip dari internet(http://www.sda-indo.com/sda/feature/psecom,id,1529,_language,Indonesia,nodeid,1,xv_query,nirkabel,xv_numresults,35,xv_sortvalue,0.html)

    buka dehhhh nodameee…

    •May 24, 2009 • Leave a Comment

    I want you to take a look at: Indowebster Nodame Cantabile Special BEST!

    ada nodame lhoo

    buka dehhhh nodameee…

    •May 24, 2009 • Leave a Comment

    I want you to take a look at: Indowebster Nodame Cantabile Special BEST!

    ada nodame lhoo

    info software

    •November 16, 2008 • Leave a Comment

    EBook KULIAH GRATIS PLUS SOFTWARE TERBARU

    href=”http://www.iklangratis.org/iklan-pendidikan/ebook-kuliah-gratis-plus-software-terbaru.html “>